Senin, 10 Juli 2017

TUGAS UAS PEMERIKSAAN INTERNAL

Contoh Kasus Penyimpangan Audit

Frank Dorrance, seorang manajer audit senior untuk Bright and Lorren, CPA baru saja diinformasikan bahwa perusahaan berencana untuk mempromosikannya menjadi rekanan pada 1 atau 2 tahun ke depan bila ia terus memperlihatkan tingkat mutu yang tinggi sama seperti masa sebelumnya. Baru saja Frank ditugaskan untuk mengaudit Machine International sebuah perusahaan grosir besar yang mengirimkan barang keseluruh dunia yang merupakan klien Bright and Lorren yang bergengsi. Selama audit, Frank menentukan bahwa Machine International menggunakan metode pengenalan pendapatan yang disebut “tagih dan tahan” yang baru saja dipertanyakan oleh SEC. Setelah banyak melakukan riset, Frank menyimpulkan bahwa metode pengenalan pendapatan tidaklah tepat untuk Machine International. Ia membahas hal ini dengan rekanan penugasan yang menyimpulkan bahwa metode akuntansi itu telah digunakan selama lebih dari 10 tahun oleh klien dan ternyata tepat. Frank berkeras bahwa metode tersebut tepat pada tahun sebelumnya tetapi peraturan SEC membuatnya tidak tepat tahun ini. Frank menyadari tanggung jawab rekan itu untuk membuat keputusan akhir, tetapi ia merasa cukup yakin untuk menyatakan bahwa ia merencanakan untuk mengikuti persyaratan SAS 22 (AU 311) dan menyertakan sebuah pernyataan dalam kertas kerja bahwa ia tidak setuju dengan keputusan rekannya. Rekan itu memberitahukan Frank bahwa ia tidak akan mengizinkan pernyataan demikian karena potensi implikasi hukum. Namun, ia mau menulis sebuah surat kepada Frank yang menyatakan bahwa ia mengambil tanggung jawab penuh untuk keputusan akhir bila timbul suatu permasalahan hukum. Ia menutup dengan mengatakan, “Frank, rekan harus bertindak seperti rekan. Bukan seperti meriam lepas yang berusaha untuk membuat hidup menjadi sulit bagi rekan mereka. Anda masih harus bertumbuh sebelum saya merasa nyaman dengan anda sebagai rekan.”
  
PEMBAHASAN KASUS DAN SOLUSI

Pada kasus di atas, kita dapat menggunakan pendekatan enam langkah untuk menyelesaikan dilema etis tersebut, antara lain :
Terdapat fakta-fakta yang relevan. Dalam kasus ini, fakta-fakta tersebut adalah :
Metode pengenalan pendapatan yang digunakan Machine International merupakan metode yang dipertanyakan oleh pihak SEC.
Setelah melakukan riset, Frank menemukan bahwa metode tersebut tidak sesuai bagi Machine Internatioal. Frank mengetahui bahwa metode tersebut memang tepat pada tahun sebelumnya tetapi peraturan SEC membuatnya tidak tepat tahun ini.
Frank merencanakan untuk mengikuti persyaratan SAS 22 (AU 311) dan menyertakan sebuah pernyataan dalam kertas kerja bahwa ia tidak setuju dengan keputusan rekannya.
Rekannya meminta Frank agar sependapat dengan dirinya untuk menyetujui penggunaan metode tersebut karena metode tersebut telah digunakan selama bertahun-tahun dan diyakini ketepatannya. Rekannya menawarkan surat pernyataan bahwa bila terjadi suatu permasalahan hukum, maka ia mengambil tanggung jawab penuh akan hal tersebut.
 Mengidentifikasi isu-isu etika berdasarkan fakta-fakta tersebut.
Isu etika dari dilema tersebut adalah apakah merupakan hal yang etis bagi Frank untuk mengeluarkan pernyataan bahwa ia tidak setuju dengan keputusan rekannya mengingat rekan merupakan orang yang membuat keputusan akhir serta berada di atas kedudukannya saat ini sebagai manajer senior.

- Konsekuensi dari setiap alternatif
 Jika ia menyetujui pendapat dan tawaran surat pertanggung jawaban dari rekannya kemungkinan hal ini dapat berpengaruh besar bagi hasil audit ini nantinya. Jika timbul permasalahan hukum maka hal ini dapat membuat perusahaanya (Bright and Lorren,CPA), rekannya, dan ia sendiri dituntut oleh kliennya karena melakukan kesalahan selama pelaksanaan audit.

- Tindakan Yang tepat

 Keputusan sepenuhnya berada di tangan Frank, tentunya ia harus mempertimbangkan masak-masak akan dilema yang diadapinya saat ini. Secara ekstrim, jika ia tetap menjunjung akan SPAP dan PSAK maka ia akan tetap menuliskan ketidak setujuannya akan keputusan rekannya dalam menangani kasus tersebut mengingat metode akuntansi yang digunakan klien tidaklah sesuai dengan aturan yang diberikan SEC. Namun jika ia menyetujui pendapat rekannya maka kemungkinan ia akan memperoleh kedudukannya sebagai rekan yang akan ia peroleh 1 atau 2 tahun ke depan serta adanya pandangan bahwa ia telah menunjukkan sikap menghargai dan menghormati keputusan rekannya. Sementara di satu pilihan lainnya Frank dapat memilih untuk tidak melakukan kegiatan penugasan tersebut melihat adanya risiko yang cukup besar pada hasil auditnya nanti. 

Minggu, 18 Juni 2017

ANALISIS NERACA PERUSAHAAN

ANALISIS NERACA 2 PERUSAHAAN
Analisis laporan keuangan pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek indonesia. Yaitu menganalisis perusahaan PT TRI BANYAN TIRTA Tbk DAN ENTITAS ANAK Dan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk. dengan melihat laporan posisi keuangan konsolidasian atau sering disebut dengan Neraca dengan cara mengukur rasio likuiditas dan rasio hutang.
A.  PT TRI BANYAN TIRTA Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
31 DESEMBER 2014 DAN 2013
(Dinyatakan dalam Rupiah)
1.      Likuiditas
a.       Rasio Lancar
Tahun 2014
Kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendek pada tahun 2014 adalah 3.08
Tahun 2013
Kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendek pada tahun 2013 adalah 1.84
Total Rasio Lancar Selama Tahun 2013 dan 2014 adalah 4.92
Pada Rasio Lancar ini digunakan untuk mengukur kemampuan membayar hutang jangka pendek.
Dari tahun 2013 sampai 2014 kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendek mengalami Kenaikan.
b.      Rasio Cepat/ Acidtest Ratio
Piutang Bersih
Tahun
2014
2013
Piutang Usaha


Pihak Berelasi
4.974.294.143
7.964.294.143
Pihak Ketiga
68.467.325.149
139.954.600.267
Piutang Non Usaha


Piutang Berelasi
79.041.118.407
505.206.073.052
Pihak Ketiga
4.948.864.167
6.342.838.573
Jumlah
157.431.601.901
659.197.805.901

                     Tahun 2014
                    
Likuiditas jangka sangat pendek perusahaan pada tahun 2014 adalah 1.10

                     Tahun 2013
                    
Likuiditas jangka sangat pendek perusahaan pada tahun 2014 adalah 1.27
  Total Rasio Cepat atau Acidtest Ratio selama tahun 2013 dan 2014 adalah 2.37
  Pada Rasio ini digunakan untuk mengukur likuiditas jangka sangat pendek.
  Perbandingannya likuiditas jangka sangat pendek lebih besar tahun 2013 dan pada tahun 2014 lebih rendah atau mengalami penurunan.
c.       Rasio Cakupan Hutang Tunai Lancar
Tahun 2014
Kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya pada suatu tahun operasinya pada tahun 2014 adalah 0.44



Tahun 2013
Kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya pada suatu tahun operasinya pada tahun 2014 adalah 0.13
Total Rasio Cakupan Hutang Tunai Lancar selama tahun 2013 dan 2014 sebesar 0.57
Pada Rasio Ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban lancarnya dalam suatu tahun dari operasinya.
Pada tahun 2014 perusahaan mengalami kenaikan dalam melunasi kewajiban lancarnya.
2.      Cakupan
a.     Hutang Terhadap Total Aktiva
Tahun 2014
Total aktiva yang diberikan oleh kreditor pada tahun 2014 adalah 0.61




Tahun 2013
Total aktiva yang diberikan oleh kreditor pada tahun 2014 adalah 0.64
Total Hutang Terhadap Total Aktiva selama tahun 2013 dan 2014 sebesar 1.23
Pada Hutang Terhadap Total Aktiva ini digunakan untuk mengukur persentase total aktiva yang diberikan oleh kreditor.
Dapat disimpulkan bahwa aktiva yang diberikan kreditor pada tahun 2014 menurun dari pada tahun 2013 itu sendiri.
b.    Rasio Hutang
Tahun 2014
Perusahaan dalam mengambangkan usaha dan memenuhi kewajibannya memiliki kesulitan 1.33.






Tahun 2013
Perusahaan dalam mengambangkan usaha dan memenuhi kewajibannya memiliki kesulitan 1.77.
Total Rasio Hutang ini selama tahun 2013 dan 2014 sebesar 3.10
Pada Rasio Hutang ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban totalnya dalam suatu tahun dari operasinya.
Kesimpulannya perusahaan dalam mengembangkan usaha dan memenuhi kewajibannya mengalami kenaikan dalam kemampuannya.
B.  PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk
LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA)
Per 31 Desember 2014 dan 2013
(Disajikan dalam Rupiah)
1.      Likuiditas
a.    Rasio Lancar
Tahun 2014
Kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendek pada tahun 2014 adalah 1.02
Tahun 2013
Kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendek pada tahun 2014 adalah 1.06
Total Rasio Lancar Selama Tahun 2013 dan 2014 adalah 2.08
Pada Rasio Lancar ini digunakan untuk mengukur kemampuan membayar hutang jangka pendek.
Dari tahun 2013 sampai 2014 kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendek mengalami penurunan.
b.   Rasio Cepat/ Acidtest Ratio
Tahun
2014
2013
Piutang Usaha


Pihak Ketiga
157.242.707.899
150.231.038.537
Pihak Berelasi
121.510.103.765
50.443.807.801
Piutang Lain-Lain
35.123.006.028
491.238.618
Jumlah
313.875.817.501
201.166.084.901






Tahun 2014
Likuiditas jangka sangat pendek perusahaan pada tahun 2014 adalah 0.15
Tahun 2013
Likuiditas jangka sangat pendek perusahaan pada tahun 2014 adalah 0.13
Total Rasio Cepat atau Acidtest Ratio selama tahun 2013 dan 2014 adalah 0.28
Pada Rasio ini digunakan untuk mengukur likuiditas jangka sangat pendek.
Perbandingannya likuiditas jangka sangat pendek lebih kecil tahun 2013 dan pada tahun 2014 lebih besar atau mengalami kenaikan.




c.    Rasio Cakupan Hutang Tunai Lancar
Tahun 2014
Kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya pada suatu tahun operasinya pada tahun 2014 adalah 0.02
Tahun 2013
Kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya pada suatu tahun operasinya pada tahun 2014 adalah 0.02
Total Rasio Cakupan Hutang Tunai Lancar selama tahun 2013 dan 2014 sebesar 0.04
Pada Rasio Ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban lancarnya dalam suatu tahun dari operasinya.
Pada 2 tahun operasi perusahaan mengalami keseimbangan dalam melunasi kewajiban lancarnya.


2.      Cakupan
a.       Hutang Terhadap Total Aktiva
Tahun 2014
Total aktiva yang diberikan oleh kreditor pada tahun 2014 adalah 0.80
Tahun 2013
Total aktiva yang diberikan oleh kreditor pada tahun 2014 adalah 0.76
Total Hutang Terhadap Total Aktiva selama tahun 2013 dan 2014 sebesar 1.56
Pada Hutang Terhadap Total Aktiva ini digunakan untuk mengukur persentase total aktiva yang diberikan oleh kreditor.
Dapat disimpulkan bahwa aktiva yang diberikan kreditor pada tahun 2014 mengalami kenaikan dari pada tahun 2013 itu sendiri.




b.      Rasio Hutang
Tahun 2014
Perusahaan dalam mengambangkan usaha dan memenuhi kewajibannya memiliki kesulitan 4.01
Tahun 2013
Perusahaan dalam mengambangkan usaha dan memenuhi kewajibannya memiliki kesulitan 3.19
Total Rasio Hutang ini selama tahun 2013 dan 2014 sebesar 7.20
Pada Rasio Hutang ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban totalnya dalam suatu tahun dari operasinya.
Kesimpulannya perusahaan dalam mengembangkan usaha dan memenuhi kewajibannya mengalami kenaikan dalam kemampuannya.



C.  PERBANDINGAN NERACA DUA PERUSAHAAN ANTARA PT TRI BANYAN TIRTA Tbk DAN ENTITAS ANAK Dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk
Dilihat dari perhitungan analisis diatas didapat perbandingan sebagai berikut:
~     Rasio Lancar PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih tinggi dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk dengan selisih 2.84 yang didapat dari 4.92 - 2.08.
Hal ini menunjukkan PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih berhasil selesai dalam perhitungan pengukuran pembayaran hutang jangka pendek dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk.
~     Rasio Cepat / Acidtest Ratio PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih tinggi dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk dengan selisih 2.09 yang didapat dari 2.37 – 0.28.
Hal ini menunjukkan PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih berhasil dan lebih cepat  selesai dalam perhitungan pengukuran pembayaran likuiditas jangka sangat pendek dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk.
~     Rasio Cakupan Hutang Tunai Lancar PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih tinggi dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk dengan selisih 0.53 yang didapat dari 0.57 – 0.04.
Hal ini menunjukkan PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih cepat dan lebih tanggap  dalam perhitungan pengukuran kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban lancarnya dalam suatu tahun dari operasinya dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk.
~     Cakupan Hutang Terhadap Total Aktiva PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih rendah dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk dengan selisih -0.03 yang didapat dari 1.23 – 1.56.
Hal ini menunjukkan PT TRI BANYAN TIRTA Tbk dalam mengukur persentase total aktiva yang diberikan oleh kreditor lebih lambat atau kurang maksimal dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk.
~     Rasio Hutang PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih rendah dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk dengan selisih 4.10 yang didapat dari 7.20 – 3.10.

Hal ini menunjukkan PT TRI BANYAN TIRTA Tbk lebih baik dibandingkan dengan PT ALUMINDO LIGHT METAL INDUSTRY Tbk dalam mengukur kewajiban perusahaan untuk melunasi kewajiban totalnya dalam suatu tahun dari operasinya.

TUGAS KULIAH KOPERASI

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-perorangan atau badan hukum yang melandasi kegiatan berdasarkan prinsip kerja sama sekaligus sebagai bentuk gerakan rakyat yang berdasarkan atas azaz kekeluargaan. “ koperasi merupakan organisasi yang berwatak sosial dan ekonomi, berarti bukan hanya memperhatikan aspek bisnisnya, tetapi juga memperhatikan sosial.
Ciri utama yang membedakan dengan bentuk usaha lain terletak pada posisi anggotanya. Melalui koperasi anggota ikut secara aktif memperbaiki kehidupannya dan kehidupan masyarakat melalui karya dan jasa yang di sumbangkan.
Seperti umumnya badan usaha, koperasi juga membuat dan menyusun laporan keuangan guna memberikan gambaran atau informasi yang menyeluruh yang mengenai keadaan harta, hutang, modal atau pendapatan hasil dan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh suatu koperasi agar dapat berguna bagi koperasi itu maupun bagi pihak lain yang berkepentingan. Untuk itu dilaksanakan suatu standar perbandingan yang disebut dengan “analisis laporan keuangan”.
Atas dasar inilah penulis merasa tertarik untuk meneliti “analisis laporan keuangan pada koperasi karyawan minyak caltex”.
B.  Rumusan masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalahnya adalah “bagaimana kondisi keuangan koperasi karyawan minyak caltex dilihat dari rasio likuiditas, solvabilitas, rentabilitas dan indeks SHU anggota??”

BAB II
PEMBAHASAN
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN KOPERASI

Koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya atas dasar prinsip koperasi dan kaidah ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat sekitarnya, sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan. Koperasi memiliki karakteristik utama yang membedakannya dengan badan usaha lain yaitu adanya identitas ganda (the dual identity of the member) pada anggotanya. Anggota koperasi berperan sebagai pemilik dan sekaligus pengguna jasa koperasi (user own oriented firm).
Laporan keuangan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen, atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Laporan keuangan koperasi yang disusun berdasarkan PSAK, akan membuat informasi yang disajikan menjadi lebih mudah dipahami, mempunyai relevansi, keandalan, dan mempunyai daya banding yang tinggi. Sebaliknya jika laporan keuangan koperasi disusun tidak berdasarkan standar dan prinsip yang berlaku, dapat menyesatkan penggunanya.
1.    Modal Koperasi
Berhasil tidaknya suatu koperasi sangat tergantung pada pengelolaan keuangannya. Pengelolaan keuangan mencakup sumber pendanaan dan penggunaan modal koperasi. Banyak koperasi gagal dan pengurusnya mengeluh semata-mata karena kekurangan modal. Sumber pendanaan koperasi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :
  1. Modal sendiri, yaitu modal yang dikumpulkan langsung dari anggota koperasi yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela, dana cadangan dan hibah.
  2. Modal dari pinjaman. Pinjaman berasal dari anggota, perorangan bukan anggota, koperasi lain, dan pinjaman dari bank.
  3. Penyertaan / Penanaman Modal.
Sedangkan penggunaan modal koperasi umumnya dikelompokkan menjadi empat yaitu:
1) modal untuk organisasi.
2) modal untuk alat perlengkapan.
3) modal kerja atau modal lancar.
4) modal untuk uang muka kegiatan.
a.    Modal Sendiri
Simpanan pokok adalah :
1.    Simpanan yang harus dipenuhi oleh setiap orang pada waktu mulai menjadi anggota suatu koperasi.
2.    Besarnya tetap dan sama untuk setiap calon anggota.
3.    Dapat diminta kembali sesudah keluar dari keanggotaan, dan kalau perlu dikurangi karena kerugian – kerugian yang diderita koperasi.
4.    Digunakan untuk modal pokok. Hal ini menanggung risiko rugi dan untung sesuai dengan kehidupan koperasi.
      Simpanan wajib adalah :
1.    Simpanan yang diwajibkan kepada anggota untuk membayar pada waktu tertentu, misalnya sebulan sekali atau setiap kali memasukkan hasil bumi ke koperasi.
2.    Dapat diminta kembali dengan cara yang ditentukan koperasi, misalnya sesudah jangka waktu tertentu atau sekian persen dari jumlah total sewaktu – waktu. Hal ini diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Simpanan sukarela adalah :
1.    Simpanan yang besarnya dan waktunya tidak tertentu, tergantung kerelaan anggota atau perjanjian antara anggota dengan koperasi.
2.    Dapat berupa simpanan giro (dapat diambil sewaktu-waktu), simpanan deposito (diambil dalam waktu tertentu menurut perjanjian dan diberi bunga), dan simpanan khusus untuk maksud tertentu misalnya untuk lebaran.
Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisisihan sisa hasil usaha, yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi.
2.    Pelaporan Keuangan Koperasi
Setelah tahun buku Koperasi ditutup, paling lambat 1 (satu) bulan sebelum  diselenggarakan rapat anggota tahunan, Pengurus menyusun laporan keuangan tahunan yang memuat sekurang – kurangnya :
1.    Perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca akhir tahun buku yang baru lampau dan perhitungan hasil usaha dari tahun yang bersangkutan serta penjelasan atas dokumen tersebut.
2.    Keadaan dan usaha koperasi serta hasil usaha yang dapat dicapai.
Laporan keuangan tersebut harus ditandatangani oleh semua anggota pengurus. Apabila salah seorang pengurus tidak menandatangani laporan tahunan tersebut, anggota yang bersangkutan harus menjelaskan alasannya secara tertulis. Persetujuan terhadap laporan tahunan termasuk pengesahan perhitungan tahunan merupakan penerimaan pertanggungjawaban pengurus oleh rapat anggota.
Bentuk dan format laporan keuangan koperasi telah diatur oleh Ikatan Akuntan   Indonesia (IAI) dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 27 tentang Akuntansi Perkoperasian (Revisi 1998). Laporan keuangan Koperasi meliputi :
  1. Neraca
  2. Perhitungan Hasil Usaha
  3. Laporan Arus Kas
  4. Laporan Promosi Ekonomi Anggota
  5. Catatan atas Laporan Keuangan.
  1. Neraca
Neraca menyajikan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan ekuitas koperasi pada waktu tertentu. Format neraca lihat contoh pada akhir materi.
Aktiva yang diperoleh dari sumbangan yang terikat penggunaannya dan tidak dapat dijual untuk menutup kerugian koperasi diakui sebagai aktiva lain-lain. Sifat keterikatan penggunaan tersebut dijelaskan dalam catatan laporan keuangan. Aktiva-aktiva yang dikelola oleh koperasi tetapi bukan milik koperasi, tidak diakui sebagai aktiva, dan harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. Simpanan anggota yang tidak berkarakteristik sebagai ekuitas diakui sebagai kewajiban jangka pendek atau jangka panjang sesuai dengan tanggal jatuh temponya dan dicatat sebesar nilai nominalnya.
Ekuitas koperasi terdiri dari modal anggota berbentuk simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan simpanan pokok atau simpanan wajib, modal penyertaan, modal sumbangan, cadangan, dan sisa hasil usaha belum dibagi. Ekuitas ini dicatat sebesar nilai nominalnya. Simpanan pokok dan simpanan wajib yang belum diterima disajikan sebagai piutang simpanan pokok dan piutang simpanan wajib. Kelebihan setoran simpanan pokok dan simpanan wajib anggota baru di atas nilai nominal simpanan pokok dan simpanan wajib anggota pendiri diakui sebagai Modal Penyetaraan Partisipasi Anggota.
  1. Perhitungan Hasil Usaha
Perhitungan hasil usaha (PHU) harus memuat hasil usaha dengan angggota dan laba atau rugi kotor dengan non-anggota.
  1. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai perubahan kas yang meliputi saldo awal, sumber penerimaan kas, pengeluaran kas, dan saldo akhir kas pada periode tertentu.
  1. Laporan Promosi Ekonomi Anggota
Dalam hal sisa hasil usaha tahun berjalan belum dibagi, maka manfaat ekonomi yang diperoleh anggota dari pembagian sisa hasil usaha pada akhir tahun buku dapat dicatat sebesar taksiran jumlah sisa hasil usaha yang akan dibagi untuk anggota.
Laporan promosi ekonomi anggota adalah laporan yang memperlihatkan manfaat ekonomi yang diperoleh anggota koperasi selama satu tahun tertentu. Laporan tersebut mencakup 4 (empat) unsur yaitu :
1.        Manfaat ekonomi dari pembelian barang atau pengadaan jasa bersama.
2.        Manfaat ekonomi dari pemasaran dan pengolahan bersama.
3.        Manfaat ekonomi dari simpan pinjam lewat koperasi.
4.        Manfaat ekonomi dalam bentuk pembagian sisa hasil usaha.
  1. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan menyajikan pengungkapan yang memuat:
1.        Perlakuan akuntansi mengenai pengakuan pendapatan dan beban sehubungan dengan tansaksi koperasi dengan anggota dan non-anggota, kebijakan akuntansi tentang aktiva teetap, penilaian persediaan, piutang, dan sebagainya, dasar penetapan harga pelayanan kepada anggota dan non-anggota.
2.        Pengungkapan informasi lain seperti kegiatan atau pelayanan utama koperasi kepada anggota baik yang tercantum dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga maupun dalam praktek, atau yang telah dicapai oleh koperasi, ikatan koperasi dalam pengembangan sumber daya dan mempromosikan usaha ekonomi anggota, pendidikan dan pelatihan perkoperasian dan sebagainya.
Masalah Akuntansi Koperasi
Permasalahan akuntansi yang selalu timbul dalam koperasi menyangkut beberapa hal yaitu :
1.    Penyertaan masing – masing anggota.
Pada koperasi yang juga melakukan kegiatan usaha untuk pihak ketiga (bukan anggota) disamping kegiatan usaha untuk anggota, sering dijumpai adanya beban bersama yang sulit dipisahkan, misalnya beban penyusutan, beban listrik, beban telepon, beban sewa dan beban lain yang digunakan untuk semua kegiatan usaha. Dalam hal ini, perhitungan pembebanan harus sesuai dengan perbandingan jumlah peredaran bruto dari kedua macam kegiatan tersebut.
2.    Pembagian sisa hasil usaha.
Sisa hasil usaha (SHU) koperasi dibagi dalam 2 (dua) katagori yaitu SHU yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota dan SHU yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk pihak ketiga (bukan anggota). SHU yang boleh dibagikan kepada anggota hanyalah SHU yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota. SHU koperasi yang disediakan untuk anggota terdiri dari jasa modal dan jasa anggota.
Proses Penyusunan Laporan Keuangan
Setelah tahun buku berakhir, pengurus koperasi wajib menyusun laporan keuangan tahunan yang memuat sekurang – kurangnya:
1.    Perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca, perhitungan hasil usaha serta penjelasan atas dokumen tersebut.
2.    Keadaan dan usaha koperasi serta hasil usaha yang dapat dicapai.
Neraca, perhitungan hasil usaha serta penjelasannya merupakan laporan pokok keuangan koperasi. Laporan keuangan koperasi tidak jauh berbeda dengan laporan keuangan untuk perusahaan lain. Perbedaan utama terletak pada penyajian modal dan perhitungan laba rugi. Proses penyusunan laporan keuangan koperasi dimulai dari proses akuntansi berupa :
  1. Pencatatan.
  2. Penggolongan.
  3. Peringkasan.
  4. Pelaporan.
  5. Analisis data keuangan.
Kegiatan pencatatan dan penggolongan merupakan proses yang dilakukan secara rutin dan berulang – ulang setiap kali terjadi transaksi keuangan.




1.    Rasio Likuiditas
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid, begitu sebaliknya, bila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya pada waktu yang telah disepakati berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid.
Analisis dan penafsiran ini sangat penting bagi pihak manjemen maupun pihak luar perusahaan seperti kreditur dan pemilik perusahaan. Adapun rasio yang dapat digunakan untuk menganalisis dan menginterprestasikan data tersebut adalah:
a.       Current ratio
Rasio ini merupakan ukuran yang paling umum dari kelancaran pelunasan utang jangka pendek, karena rasio tersebut menunjukkan seberapa jauh tagihan para kreditur jangka pendek bisa di tutup oleh aktiva yang secara kasar bisa berubah menjadi kas dalam jangka waktu yang sama dengan tagihan tersebut. Current ratio merupakan perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan utang lancar
Current ratio yang tinggi menunjukan adanya jumlah uang kas yang berlebih bila dibanding dengan tingkat kebutuhan. Current ratio yang tinggi tersebut memang baik dilihat dari sudut pandang kreditur jangka pendek, tetapi pihak pemegang saham hal tersebut kurang menguntungkan, karena aktiva lancar yang ada tidak didayagunakan dengan efektif.


Current ratio = aktiva lancar : hutang lancar = 404.267.327.862 : 296.333.858.938 = 1,364.229.283
Pada Rasio Lancar ini digunakan untuk mengukur kemampuan membayar hutang jangka pendek.
b.      Quick ratio
Sering juga disebut quick ratio atau rasio cepat, yaitu rumus perbandingan yang digunakan uantuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan. Hal tersebut dikarenakan, persediaan dianggap sebagai aktiva yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk dicairkan menjadi uang, selain itu juga sering mengalami fluktuasi harga. Acid test ratio dihitung dengan membandingkan aktiva lancar yang telah dikurangi persediaan dengan hutang jangka pendek
Quick ratio
Dipergunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar deposit dengan jumlah cash assets yang dimiliki.
Quick ratio = aktiva lancar – persediaan : hutang lancar = 404.267.327.862 – 15.747.398 : 296.333.858.938 = 1,364.176.142
c.       Ratio Cepat
Apabila rasio-rasio diatas menunjukkan bahwa perbandingan antara aktiva lancar dengan utang lancar memuaskan, akan tetapi setelah memeriksa  jumlah yang harus dibayar dan jumlah yang harus diterima ternyata bahwa hutang jangka pendek tersebut harus dibayar lebih cepat atau harus dibayar sebelum koperasi menerima jumlah uang atau kas yang cukup untuk membayar utang-utangnya tersebut, maka keadaan ini bisa dianggap kurang memuaskan.
Rasio cepat = kas + piutang : hutang lancar = 196.452.584+315.615.605.981 : 296.333.858.938 = 1,065.730.591
Pada Rasio ini digunakan untuk mengukur likuiditas jangka sangat pendek.
2.    Rasio solvabilitas
Adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban – kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Solvabilitas menunjukkan kemampuan koperasi dalam melunasi seluruh kewajibannya yang diukur dengan perbandingan antara jumlah kewajiban terhadap jumlah aktiva. Rasio Solvabilitas antara lain :
  1. Total Dept To Total Asset
Rasio ini untuk memperbandingkan jumlah total hutang dengan total harta yang dimiliki oleh perusahaan. Adapun rasio ini digunakan untuk mengukur presentasi total dana yang berasal dari kreditur.
Kreditur lebih menyukai tingkat rasio ini rendah, karena semakin rendah rasio hutang semakin besar perlindungan yang diperoleh bila koperasi tersebut dilikuidasi. Begitu pula sebaliknya, bagi pemilki perusahaan akan lebih menyukai rasio ini dalam keadaan tinggi karena bila terjadi likuidasi, meskipun mereka merugi hanya sebesar modal yang ditanam, yang relatif kecil.
Menurut Syamsudin rasio ini digunakan untuk menunjukkan berapa total aktiva yang disediakan untuk menjamin hutang perusahaan.
Total Dept To Total Asset = total hutang : total aktiva=
321.758.920.885 : 419.432.488.485 = 0,767.129.227

  1. Total Debt To Equity Ratio
Rasio ini digunakan untuk menilai berapa bagian dari rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang.
Menurut Harahap rasio ini digunakan untuk menggambarkan sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini maka semakin baik.
Total Debt To Equity Ratio = kewajiban jangka panjang : modal = 25.425.061.947 : 97.673.567.599 = 0,260.306.473

  1. Rasio Profitabilitas
Rasio ini biasa disebut juga rasio rentabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya.
a. Margin laba kotor (Gross Profit Margin)
Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibanding dengan total nilai penjualan bersih.

b. Margin laba operasi (Operating Profit Margin)
Rasio ini merupakan profit yang dihasilkan benar – benar murni berasal dari hasil operasi perusahaan belum diperhitungkan dengan kewajiban besar lainnya.

c. Margin laba bersih (Net Profit Margin)
Rasio laba bersih digunakan untuk mengukur besarnya laba bersih yang dicapai dari sejumlah penjualan tertentu.

d. Ratio Total Assets Turnover
Rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Semakin rasio ini semakin, berarti aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba.
e.    Ratio Return on Investment (ROI/ROA)
Menunjukkan perbandingan antara laba (SHU) dengan total aktiva. Analisis ROI dalam analisis keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh.
Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva.
= sisa hasil usaha : total aktiva = 2.274.091.859 : 419.432.488.485 = 0,005.421.830.502

f.     Return on Equity (ROE)
Menunjukan tingkat keuntungan dari investasi pemilik modal sendiri. Rasio yang membandingkan laba (SHU) dengan modal sendiri.
Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik.
= sisa hasil usaha : modal = 2.274.091.859 : 97.673.567.599 = 0,023.282.571

g. Ratio laba perlembar saham (Earning Per Share)

Rasio ini digunakan untuk mengukur jumlah rupiah yang diterima untuk setiap lembar saham biasa.